Senin, 11 Mei 2020

Gerakan Jaga Isteri Tetangga

Gerakan Jaga Isteri Tetangga



(Status copast-an)
Sukseskan Gerakan Jaga Tetangga

"Halo, Mas Kenshin, gimana keadaan di kampung?"

"Alhamdulillah, semoga tetap kondusip. Kamu gimana, apa masih bisa kerja?"

"Alhamdulillah. Mas, boleh minta tolong gak?"

"Silahkan, mas Jeckk Faqodd. Kalau aku bisa, pasti akan aku bantu kok!"

"Untuk sementara ini, jelas saya gak bisa pulang kampung atau mudik. Jadi saya minta tolong sama Mas kenshin untuk sering-sering lihat keadaan keluarga saya."

"Soal itu gak usah kamu pikirin, jeck. Saya dan warga desa semua sudah sepakat untuk mensukseskan #Gerakan_jogo_Tonggo. Jadi kamu enggak usah terlalu khawatir akan keluarga kamu."

"Maksudnya, gerakan jogo tonggo itu apa, Mas?"

"Itu sebetulnya cuma hal sederhana saja kok, jeck. Masyarakat sepakat, Setiap hari masing-masing warga yang mampu, menyisihkan satu piring masakannya untuk diberikan kepada tetangga yang kekurangan."

"Oh begitu..., Syukurlah. Setidaknya keluarga saya tidak akan kelaparan. Tapi Mas kenshin kan bukan perangkat, kontribusi Mas di bagian apa?"

"Lhoo, saya kan ikut di bagian keamanan. Jadi kalian yang di perantauan gak usah kawatir. Istri kalian aman bersama kami. Terutama kamu, jeck. Tenang saja, istrimu aman sama aku."

"Waduh!"

Label:

Jangan Menyebut Aku Kecil, Paman

JANGAN MENYEBUT KAMI KECIL PAMAN

Oleh: Moh. Kholil Mughofar
(Waka. Ur. Kesiswaan)



#Waktu_masih_mondok...

Pernah satu saat ada alumni berkunjung ke kamar asatidz. Beliau banyak bercerita tentang kondisi pondok pada zamannya dulu. Bla bla, panjang sekali. Saya cukup menjadi mustami'

"Dulu santri iku gede-gede kang. Tidak kecil-kecil seperti sekarang"
Saya mesem saja 🙂

"Pengurus-pengurusnya juga tua-tua. Tidak seperti sekarang... kecil-kecil"
Eseman saya tak angkat sebelah 😏

Ngapuntene, pak. Njenengan dulu mondok sampai yuswo berapa gih?
"Walah kang! Saya dulu lama! Sampai 25, kang"
Pak ... Saya sekarang umur 28 tahun! 
"Eh?!"
Pak Mujib dan pak Mahfudz juga 28. Pak Imdad 26 ...
"Waduh??"

Perlahan beliau mundur secara teratur, lalu pergi entah kemana. Dan sayapun tertawa bersama teman-teman ustadzah yang lain (ustadz kalau kelamaan jadi ustadzah 😂). Senangnya bisa mengcover sampai KO. 

Sesekali boleh kan kami menang hihi 🤗

Label: ,

Kamis, 27 Februari 2020

Menangkap Pocong Naik Ontel

Moh. Kholil Mughofar
(WK. UR. Kesiswaan)




“Hei Dzul! Sudah dengar kabar tentang hantu pocong yang belakangan ini mulai meneror warga kampung?” Khoirul memulai obrolan malam itu. Bersama Dzul dan Saipur yang kebetulan juga sedang ngopi di warung kang Himam pinggir sawah mbalong.
“Ya… sekedar dengar, Rul. Aku kira cuma kabar bohong… biar rame saja… Masak ada pocong naik ontel??” Dzul menanggapi santai pertanyaan sahabatnya itu.
Kang Himam keluar dengan membawa 3 cangkir kopi pesanan ke 3 pelanggannya. “Itu beneran kang!” Lalu dia ikut nimbrung dalam obrolan itu. “Mbah Sobron yang jualan lontong di selatan masjid melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, sampai-sampai dia ngompol di celana!”
“Ah… masa’ to, Kang??”
“Wong dia cerita langsung ke saya kok. Sudah banyak yang jadi saksi!”
“Sampai daerah sini atau tidak, ya??? Kok lama-lama aku jadi takut…” Saipur bergidik. Soalnya anak itu sering juga disuruh mbah kungnya beli rokok malam-malam.
“….Biasanya… penampakan seperti itu sebagai wujud mencari tumbal!” Kang Himam kembali melanjutkan ceramahnya yang sempat terputus tadi yang membuat Saipur lebih bergidik. Terbayang olehnya kalau-kalau saat ia dalam perjalanan membeli rokok, tiba-tiba di tengah jalan dia dicegat hantu pocong itu… diringkus, lalu dinaikkan keatas ontel-nya dan dibawa ke dunia gaib sebagai tumbal…
“TIDAAAAAKK!!!”
Saipur tanpa sadar berteriak histeris. Kang Himam, Dzul dan Khoirul terkejut luar biasa. Panik.
“Pur?! Pur?! Nyebut, Pur!!! Ada apa????”
…………………………………..
Tiga orang yang ngopi kemarin bakal menjalankan sebuah proyek BESAR. Persiapannya saja sudah dimulai sejak tiga minggu yang lalu.Saipur pun sudah tatak sekarang. Jam dinding rumah Dzul menunjukkan angka 22 : 00, nampak Taraban sangat lenggang malam juma ini, kecuali Dzul` Cs. karena mereka sedang benar-benar sibuk mempersiapkan semuanya untuk menangkap hantu “POCONG naik ONTEL”.
Ya, karena kabar penampakan hantu nyentrik ini juga para penjual mie ayam dan bakso tidak ada yang berani jualan pas malam jumat. Seperti yang sudah diceritakan kang Himam kemarin. Mereka bertiga memilih jalan lapangan Toder sebagai spot dead target.
Senar ukuran tanggung mereka bentangkan di jalan desa depan makam, tersambung dengan senar yang agak besar yang menjulur ke atas dan terikat dengan jarring besar yang membentang di antara empat pohon di kiri dan kanan jalan pojok lapangan.
Rencananya nanti saat pocong sudah muncul Dzul yang bersembunyi di semak-semak seberang barat akan menarik senar tanggung, senar mengencang dan roda sepedah bakal nyerimpet, sehingga senar itu tertarik, senar agak besar juga ikut tertarik, lalu jaring yang ada di atas bakal terjatuh dan meringkus target, kemudian Khoirul dan Saipur yang bersembunyi di seberang yang lain akan segera menangkapnya!!!. Ide yang benar-benar brilian!!! paling tidak begitulah pikiran mereka.
Menangkap hantu memakai perangkap? Bukan dengan rajah, pusaka ataupun suwuk? Ya biarkan saja… penting niatnya nolong orang. kata Khoirul.
Semua persapan selesai. Ketiganya menempati pos masing-masing.
“Krieet,,,,,,kriet,,,,krieet,,,”
Dari kejauhan terdengar suara gelindingan roda. Keadaan Cuma remang-remang karena Lampu-Lampu jalan umum saat itu mati. Khoirul dan Saipur yang ada di seberang jalan sebelah timur saling berpandangan. Keringat dingin langsung keluar. Begitu juga Dzul yang bersembunyi di seberang barat. Tangannya gemeteran. Saat suara itu semakin mendekat, dan tanpa melihat, Dzul langsung menarik senar yang dari tadi digenggamnya, senar mengencang lalu menyangkut dan Guzrak!!. . . buk!!
“Waaa…!!!” terdengar suara jeritan
Tak mau kehilangan mangsa, Khoirul dan Saipur langsung menerjang tanpa mengamati terlebih dahulu apa yang mereka tangkap.
“Gladuk!!” terdengar suara kepala Khoirul membentur benda keras. Mereka raba-raba tangkapan mereka. Keduanya pun berpandang-pandangan. Mbah Sobron??!
“Siapa ini? kurang asem!!! Orang tua dari pasar kok dijaring begini????!! Dasar orang kurang ajar!!!” Keduanya segera melompat menjauh lalu berlari sekuat tenaga. Sedang Dzul sudah kabur dari tadi.
Ternyata mereka salah sasaran!

Label:

Rabu, 26 Februari 2020

Sehari Belajar di Luar Kelas

Lailatul Qomariyah
(kelas VIII)


Kegiatan sehari belajar di luar kelas diinisiasi oleh Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPPA). Kegiatan ini dilaksanakan serentah oleh seluruh satuan kerja yang menangani pendidikan pada hari Kamis 7 Nofember 2019.
Kegiatan ini mengusung tema “Mewujudkan sekolah ramah anak melalui kegiatan sehari belajar di luar kelas” 

Tujuannya untuk mewujudkan sekolah ramah anak dan kabupaten Bojonegoro sebagai daerah yang ramah sebagai tempat belajar anak-anak. Dan di antara sekolah yang mengadakannya adalah madrasah kita, MTs. Manba’ul Huda Sekaran. 
Kegiatan sehari belajar di alam terbukti efektif serta menyenangkan karena siswa diajak langsung berbaur dengan alam. 

“Menikmati udara segar, pandangan kita tidak hanya tertuju papan tulis terus sehingga seringkali membosankan dan membuat malas belajar” Komentar salah satu siswa.

Kepala Madrasah Tsanawiyah Manba’ul Huda Sekaran dalam sambutannya menyampaikan; berharap kegiatan ini dapat membangun kebersamaan, kedekatan hati dan rasa saling percaya di antara siswa, guru dan semua elemen dalam lingkup sekolah. 

“Kegiatan ini kedepannya kita programkan secara terjadwal, untuk merefresh kepenatan siswa selama di kelas” 
Sementara itu, Menurut Wakamad. Kesiswaan Moh. Kholil Mughofar menyebut kegiatan ini sebagai bentuk pembelajaran yang sangat bagus.

“Anak-anak bisa langsung berinteraksi dengan dunia luar, jauh dari kejenuhan belajar di kelas yang monoton. Serta bisa menambah kreatifitas siswa serta para guru”

Semoga kedepannya kegiatan ini bisa dijadikan agenda rutin madrasah kita, jika bisa jangan hanya setahun sekali namun dibuat lebih sering lagi, serta dibuat lebih meriah dan dengan mengusung tema yang berganti-ganti setiap pelaksanaannya.

Ayo semangat belajar!
Madrasah desa tempatnya para juara!

Label: