Menangkap Pocong Naik Ontel
Moh. Kholil Mughofar
(WK. UR. Kesiswaan)
“Hei Dzul! Sudah dengar kabar tentang hantu pocong yang belakangan ini mulai meneror warga kampung?” Khoirul memulai obrolan malam itu. Bersama Dzul dan Saipur yang kebetulan juga sedang ngopi di warung kang Himam pinggir sawah mbalong.
“Ya… sekedar dengar, Rul. Aku kira cuma kabar bohong… biar rame saja… Masak ada pocong naik ontel??” Dzul menanggapi santai pertanyaan sahabatnya itu.
Kang Himam keluar dengan membawa 3 cangkir kopi pesanan ke 3 pelanggannya. “Itu beneran kang!” Lalu dia ikut nimbrung dalam obrolan itu. “Mbah Sobron yang jualan lontong di selatan masjid melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, sampai-sampai dia ngompol di celana!”
“Ah… masa’ to, Kang??”
“Wong dia cerita langsung ke saya kok. Sudah banyak yang jadi saksi!”
“Sampai daerah sini atau tidak, ya??? Kok lama-lama aku jadi takut…” Saipur bergidik. Soalnya anak itu sering juga disuruh mbah kungnya beli rokok malam-malam.
“….Biasanya… penampakan seperti itu sebagai wujud mencari tumbal!” Kang Himam kembali melanjutkan ceramahnya yang sempat terputus tadi yang membuat Saipur lebih bergidik. Terbayang olehnya kalau-kalau saat ia dalam perjalanan membeli rokok, tiba-tiba di tengah jalan dia dicegat hantu pocong itu… diringkus, lalu dinaikkan keatas ontel-nya dan dibawa ke dunia gaib sebagai tumbal…
“TIDAAAAAKK!!!”
Saipur tanpa sadar berteriak histeris. Kang Himam, Dzul dan Khoirul terkejut luar biasa. Panik.
“Pur?! Pur?! Nyebut, Pur!!! Ada apa????”
…………………………………..
Tiga orang yang ngopi kemarin bakal menjalankan sebuah proyek BESAR. Persiapannya saja sudah dimulai sejak tiga minggu yang lalu.Saipur pun sudah tatak sekarang. Jam dinding rumah Dzul menunjukkan angka 22 : 00, nampak Taraban sangat lenggang malam juma ini, kecuali Dzul` Cs. karena mereka sedang benar-benar sibuk mempersiapkan semuanya untuk menangkap hantu “POCONG naik ONTEL”.
Ya, karena kabar penampakan hantu nyentrik ini juga para penjual mie ayam dan bakso tidak ada yang berani jualan pas malam jumat. Seperti yang sudah diceritakan kang Himam kemarin. Mereka bertiga memilih jalan lapangan Toder sebagai spot dead target.
Senar ukuran tanggung mereka bentangkan di jalan desa depan makam, tersambung dengan senar yang agak besar yang menjulur ke atas dan terikat dengan jarring besar yang membentang di antara empat pohon di kiri dan kanan jalan pojok lapangan.
Rencananya nanti saat pocong sudah muncul Dzul yang bersembunyi di semak-semak seberang barat akan menarik senar tanggung, senar mengencang dan roda sepedah bakal nyerimpet, sehingga senar itu tertarik, senar agak besar juga ikut tertarik, lalu jaring yang ada di atas bakal terjatuh dan meringkus target, kemudian Khoirul dan Saipur yang bersembunyi di seberang yang lain akan segera menangkapnya!!!. Ide yang benar-benar brilian!!! paling tidak begitulah pikiran mereka.
Menangkap hantu memakai perangkap? Bukan dengan rajah, pusaka ataupun suwuk? Ya biarkan saja… penting niatnya nolong orang. kata Khoirul.
Semua persapan selesai. Ketiganya menempati pos masing-masing.
“Krieet,,,,,,kriet,,,,krieet,,,”
Dari kejauhan terdengar suara gelindingan roda. Keadaan Cuma remang-remang karena Lampu-Lampu jalan umum saat itu mati. Khoirul dan Saipur yang ada di seberang jalan sebelah timur saling berpandangan. Keringat dingin langsung keluar. Begitu juga Dzul yang bersembunyi di seberang barat. Tangannya gemeteran. Saat suara itu semakin mendekat, dan tanpa melihat, Dzul langsung menarik senar yang dari tadi digenggamnya, senar mengencang lalu menyangkut dan Guzrak!!. . . buk!!
“Waaa…!!!” terdengar suara jeritan
Tak mau kehilangan mangsa, Khoirul dan Saipur langsung menerjang tanpa mengamati terlebih dahulu apa yang mereka tangkap.
“Gladuk!!” terdengar suara kepala Khoirul membentur benda keras. Mereka raba-raba tangkapan mereka. Keduanya pun berpandang-pandangan. Mbah Sobron??!
“Siapa ini? kurang asem!!! Orang tua dari pasar kok dijaring begini????!! Dasar orang kurang ajar!!!” Keduanya segera melompat menjauh lalu berlari sekuat tenaga. Sedang Dzul sudah kabur dari tadi.
Ternyata mereka salah sasaran!
Label: cerpen


